Mengenang Seorang Sahabat

Sahabat, masih ingatkah dengan sebuah tulisan “Ketika Tuhan Bertanya – Maka Nikmat Tuhan Kamu yang Manakah yang Kamu Dustakan?” yang pernah dimuat di rubrik Oase Iman ini sebulan yang lalu? Tulisan itulah yang telah kembali membuka kenangan lama saya bersama almarhumah ibunda tercinta karena ayat tersebut merupakan bagian dari surat Ar-Rahman kesukaan beliau yang hampir setiap malam dilantunkan setelah melaksanakan shalat tahajud.
Maka, izinkan saya untuk berdo’a agar Allah masih mengekalkan ingatan kita semua. Karena pada kesempatan ini saya ingin kembali mengajak anda mengenang kebaikan-kebaikan sang penulis, ketekunan dan keikhlasannya di dalam beribadah kepada Allah, kekuatan semangat dakwahnya yang tiada lekang ditelan kejemuan hidup di alam fana ini.
Keusuma Izzati adalah sang penulis tersebut dan para sahabatnya lebih akrab dengan nama kecilnya “Nanda”. YISC Al-Azhar, adalah organisasi pemuda masjid Al-Azhar, Jakarta tempat di mana dia dulu melarutkan dirinya sebelum akhirnya kembali ke tanah kelahirannya – Aceh.
Seminggu yang lalu tepatnya pada tanggal 25 Desember 2004 jam 11:23 AM Nanda telah melantunkan sebuah bait do’a penuh makna, “Semoga Tuhan tunjukkan jalan terbaik dalam setiap langkah hidupku, dalam peran apapun yang harus aku emban, dan dalam suka maupun dukaku. Karena aku sangat yakin, Allah tidak akan membiarkan aku terus dalam kesendirian…”.
Sahabat, sungguh kita tidak pernah tahu bahwa do’a itulah mungkin kata-kata terakhirnya untuk kita para sahabatnya karena Nanda adalah salah seorang korban gempa bumi dan hempasan gelombang dahsyat tsunami yang memporak-porandakan tanah rencong kelahirannya yang terjadi keesokan harinya pada tanggal 26 Desember 2004 di pagi hari, yang juga mungkin telah memusnahkan seluruh anggota keluarganya, atau bahkan mungkin juga telah merenggut nyawanya sendiri. Tsunami telah membawanya kembali kepada sang Pencipta – Allah Robbul ‘Alamin.
Do’anya mungkin telah terkabul bahwa Allah tidak akan membiarkannya terus dalam kesendirian. Benar, Allah lebih mencintainya daripada kita sehingga Allah mengambilnya lebih cepat dari dugaan kita sebelum ini. Dan kini kita menyadari bahwa antara hidup dan mati memang sangat tipis jaraknya dan kita tidak pernah tahu kapan kematian itu akan datang menjemput.
Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?. (QS Ar-Rahman: 26-28)
Satu minggu sudah kami tidak pernah lagi mengetahui keberadaannya. Di manakah jasadnya bila memang dia telah tiada pun kami tidak pernah tahu. Hanya berita-berita sedih dan menyayat hatilah yang telah mengisi kehidupan hari demi hari. Betapa banyaknya saudara-saudara kita yang meninggal, yang telah kehilangan anak-anaknya, yang kehilangan orang tuanya, yang kehilangan kakak dan adiknya, paman dan bibinya, tetangga dan kerabatnya, guru-guru dan sahabat-sahabatnya, dan semua orang-orang yang dicintainya, juga tempat tinggal, harta dan kekayaannya yang selalu dibanggakan sebelum ini. Sungguh betapa besar kerugian yang harus ditanggung umat manusia di penghujung tahun ini.
Tragedi tsunami dan gempa bumi telah membawa kita pada kebinasaan namun kita selalu yakin bahwa Allah tidak akan menurunkan sesuatu kecuali dengan hikmahnya. Ya hikmahnya yang baik.
Kini kita bisa melihat sebuah pemandangan indah yang sangat menakjubkan, persatuan umat manusia sedunia! Yang dulu selalu kita impikan, mereka bahu membahu satu sama lain dengan penuh keikhlasan, mengulurkan tangannya tanpa peduli keringat dan darah, mengeluarkan sedekahnya hingga hampir menghabiskan seluruh gajinya. Dari Jawa hingga ke Afrika. Tiada lagi perbedaan agama, suku, warna kulit dan ideologi. Semua orang berlomba mencari posisi terdepan sebagai volunteer seolah mengejar sebuah jabatan strategis, hanya untuk satu tujuan bersama “Bantuan kemanusiaan bagi para korban tragedi tsunami”. Padahal dulu betapa sulitnya kita mengumpulkan sumber daya manusia sebanyak itu, mengumpulkan lembaran demi lembaran uang kertas untuk keperluan bahan-bahan pokok atau hanya sekedar mengumpulkan pakaian bekas yang masih layak pakai untuk hal yang sama juga, menyantuni anak yatim, membantu fakir miskin dan lain sebagainya.
Nanda, sahabat terbaik kami, istirahatlah dengan tenang bila memang Allah telah menemani kesendirianmu. Seruan shalat ghaib pun telah dikumandangkan di seluruh negeri, dan kami telah mendirikannya.
Kini seluruh dunia tertunduk layu menyambut bergantinya tahun di antara tragedi tsunami dan gempa bumi.
Maka apabila langit telah terbelah dan menjadi merah mawar seperti (kilapan) minyak. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?. (QS Ar-Rahman: 37-38)
Sahabat, inilah bait-bait puisi terakhir Nanda “Kutitipkan Rahasia Hatiku Padamu” yang dibuat pada tanggal 9 Desember 2004 – dua minggu menjelang tragedi.
Sudahlah…
satu rintangan terlewati kini
satu teka-teki terjawab kini
satu angan terpupuskan kini
tapi ada satu asa yang masih melangkah
walau dalam remang
mencoba memijakkan kaki tetap di atas bumi
dengan tangan menengadah ke langit
Ya Allah…
pantulkanlah cinta untukku
dari cermin hati hambaMu
yang terpapar cahaya cintaMu
Beningkanlah hati kami
agar tiada redup pelita kasihMu.
9 Desember 2004 Keusuma. Allah selalu punya cara untuk membuat kita kembali kepadaNya. Selamat jalan Nanda dan tersenyumlah bahwa raudhatul jannah sedang menunggumu. Insya Allah.

Satu pemikiran pada “Mengenang Seorang Sahabat

  1. Ini cerita sungguhan? atau fiksi?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s