Ibadah, Sang Energi Kehidupan

“Om min dotter skulle ha dott, skulle jag nog inte be som han gjorde, tankte jag” (Saya fikir, jika anak saya harus meninggal, mungkin saya tidak akan beribadah sebagaimana ibadah yang dia lakukan)
Rabu malam tanggal 18 Nopember lalu, masyarakat Swedia dikejutkan dengan berita kematian atlit kebanggaan mereka, Mikael Ljungberg. Mikael Ljungberg, pegulat berusia 34 tahun, peraih mendali emas di Olimpiade dunia di Sydney tahun 2000 yang lalu telah mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri di rumah sakit Molndal (di luar kota Gothenburg) tempat dia menjalani terapi depresi.
Tidak begitu jelas hal apa yang mendorongnya melakukan bunuh diri. Berbagai peristiwa sedih memang mendera sang jagoan olimpiade ini termasuk kematian ibunya dan perceraian dengan istrinya. Sungguh disayangkan, Mikael Ljungberg, pria yang pernah dijuluki manusia terkuat di dunia (karena telah berkali-kali meraih berbagai mendali pada olah raga gulat pada berbagai kejuaraan tingkat dunia), pria yang pernah menaklukkan seluruh pegulat-pegulat terbaik di dunia, ternyata tidak mampu menaklukkan dirinya sendiri.
Begitulah episode akhir dari jagon olimpiade yang telah kehilangan energi kehidupan. Sebagaimana yang ditulis Anawati beberapa waktu yang lalu di eramuslim tentang Energi Ambang, semua yang hidup, segala sesuatu yang bergerak, memerlukan energi. Bila energi terus menipis dan kemudian habis, benda yang tadinya bergerak, perlahan berhenti hingga akhirnya stop sama sekali. Energi yang paling hakiki bagi seorang manusia adalah motivasi hidupnya. Bila motivasi hilang, maka hilanglah pegangan hidup, lenyaplah energi dan berhentilah kehidupan itu sendiri.
Motivasi hidup seorang manusia adalah untuk beribadah kepada Allah. Ibadah inilah yang menjadi sumber energi bagi kehidupan, demikian hal yang pernah diungkap di salah satu edisi Majalah Tarbawi. Karena itulah kehidupan yang ditopang semata-mata oleh teori humanisme belaka, seperti layaknya masyarakat barat, hanya melahirkan sosok-sosok yang rentan dan labil, yang tidak mampu menahan badai kehidupan. Jadi jangan heran, orang-orang barat yang tubuhnya segar bugar, prianya tampan-tampan dan wanitanya cantik-cantik, ternyata kebanyakan mereka tidak ubahnya sosok-sosok lemah tanpa daya yang begitu mudah mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri.
Misalnya di Swedia, manurut harian pagi terkemuka Goteborgs Posten, diantara jumlah penduduk Swedia yang hanya 9 juta orang itu, setiap enam jam ada satu orang yang mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Bahkan bunuh diri adalah penyebab kematian terbesar bagi golongan usia 15-44 tahun, usia muda dimana seseorang seharusnya mempunyai energi yang prima untuk berkarya.
Ibadah kepada Allah, adalah sumber energi kehidupan yang utama dan pertama. Energi sangat diperlukan, terlebih-lebih pada saat-saat krisis. Bahwa kehidupan di dunia tidaklah selalu diwarnai dengan bunga, pujian dan sanjungan. Bahwa onak dan duri kerap ditemukan dalam jalan kehidupan yang panjang ini. Bahwa badai, ombak dan gelombang bisa saja datang secara tiba-tiba, yang bila kita tidak mempunyai persediaan energi yang prima untuk berenang ke tepian, bisa saja gelombang tadi menyeret dan menenggelamkan kita ke dasar lautan, ke lembah neraka jahanam karena kita mengakhiri hidup dengan bunuh diri.
“Sesunggunya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir. Kecuali orang-orang yang mengerjakan sholat, yang mereka itu tetap mengerjakan sholatnya” (Qur’an, surah Al-Ma’aarij:19-23). Di sinilah sholat, sebagai salah satu bentuk ibadah kepada Allah, mampu membentuk pribadi-pribadi tangguh, yang selalu mempunyai energi kehidupan sehingga tidak berkeluh kesah apalagi menyerah terhadap berbagai kesusahan dan kesedihan. Apalagi Allah telah menjanjikan bahwa sholat yang benar akan mampu mencegah manusia dari perbuatan keji dan mungkan termasuk bunuh diri.
Saya jadi teringat kisah Fredrik Dahlberg, pemuda asli Swedia kelahiran tahun 1974, yang kemudian menjadi muslim di tahun 1996. Istrinya, gadis asal Perancis, juga menjadi muslim pada tahun yang sama. Allahu Akbar. Sebelum mereka menjadi muslim, mereka pernah berkunjung ke Yaman. Suatu ketika mereka tidak menemukan hotel untuk bermalam hingga akhirnya datang seorang Yaman menawari mereka bermalam di tempat tinggalnya. Selain Fredrik dan istrinya, ada juga tiga orang Yaman lainnya, yang ketika itu tidak mempunyai tempat bermalam, juga ditawari bermalam di tempat tinggal orang tadi.
Lelaki Yaman tadi begitu ramah dan positif, tidak tampak raut kesedihan sama sekali, padahal anak gadis tercintanya yang berumur 1 tahun baru saja meninggal dunia sebulan yang lalu. Namun lelaki Yaman ini tetap memuliakan para tamunya (termasuk Fredrik dan istrinya) sebagaimana yang diperintahkan dalam Islam. Setelah semuanya selesai, malam itu laki-laki Yaman tadi bersama tiga orang Yaman lainya menunaikan sholat berjamaah. Menyaksikan laki-laki Yaman tadi begitu khusyuk dalam sholatnya (padahal anaknya baru saja meninggal dunia), Fredrik menulis dalam buku memoarnya, “Om min dotter skulle ha dott, skulle jag nog inte be som han gjorde, tankte jag” artinya “Saya fikir, jika anak saya harus meninggal, mungkin saya tidak akan beribadah sebagaimana ibadah yang dia (laki-laki Yaman itu) lakukan”.
Lebih lanjut Fredrik menulis mengomentari pria Yaman tadi “Att vara positif, och be till Gud…” “Selalu bersikap positif dan beribadah pada Allah…” Sikap pria tadi yang begitu tegar dalam menghadapi musibah dan senantiasa berprasangka positif kepada Allah, memberikan kesan yang begitu kuat dan mendalam bagi Fredrik dan istrinya. Peristiwa ini adalah satu dari beberapa peristiwa lainnya, yang membuat Fredrik dan istrinya sangat kagum terhadap muslim hingga akhirnya mereka tertarik mempelajari Islam dan kemudian menjadi muslim.
Pria Yaman tadi adalah orang yang sangat sederhana, bukan orang ternama seperti Mikael Ljungberg. Pria Yaman ini juga bukanlah orang seperkasa Mikael Ljungberg yang mampu mengalahkan pegulat-pegulat kelas dunia. Namun Pria Yaman ini memiliki energi kehidupan yang tidak pernah habis, sebuah energi yang tidak dimiliki oleh Mikael Ljungberg. Mungkin inilah rahasia mengapa ibadah kepada Allah harus terus dilakukan dimana dan kapan saja serta dalam keadaan bagaimana pun juga, karena melalui ibadahlah kita mendapatkan energi kehidupan. Bila ibadah terhenti, energi menjadi lenyap, tubuh menjadi kaku maka di sinilah terminal kehidupan dunia kita berakhir (menuju kehidupan akhirat yang kekal dan abadi).
Wallahua’lam bisshowab.

Satu pemikiran pada “Ibadah, Sang Energi Kehidupan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s