Songsong Ramadhan, Rindu Kumandang Adzan

Di sebuah toko Maroko di Frankfurt am Main, seorang muslimah bernama Shalihah bertutur betapa bahagianya para muslim di Jerman dalam menyambut bulan Ramadhan. ”Insya Allah tak ada masalah berpuasa di sini. Asal kita berusaha mengikuti segala perintah Allah dan berusaha mengekang hawa nafsu.”, ucapnya. ”Namun ada satu hal yang terasa kurang. Waktu menunggu berbuka puasa kita tak pernah mendengar suara adzan Maghrib berkumandang.”
Adzan sebenarnya masih dikumandangkan di masjid-masjid, namun suaranya tidak boleh sampai menggema keluar seperti di Indonesia, karena bisa dianggap melanggar peraturan umum. Muhammad Stefan, seorang muslim asli Jerman mengatakan kerinduannya yang mendalam untuk mendengar suara panggilan shalat itu. Lantas dia men-download program Adzan dari situs-situs Islam di internet pada komputernya, sehingga segera tahu kapan saatnya shalat, imsa’, dan iftar (berbuka puasa).
Sekitar 500.000 orang asli Jerman telah memeluk agama Islam dari total kira-kira empat juta muslim di Jerman. Kebanyakan mereka memeluk Islam melalui pernikahan, namun tak sedikit juga yang masuk Islam karena pemikirannya sendiri, setelah membaca, berdiskusi dan berinteraksi dengan para muslim. Beberapa di antara mereka telah mengganti nama depan khas Jermannya dengan nama muslim. Wolfgang sekarang dikenal sebagai Muhammad, Manfred sebagai Khamis, Walter sebagai Rashid, Michael sebagai Omar, Andreas sebagai Ismael, Gerhard sebagai Abdel Qadir, Bernd sebagai Khalid. Para muslimahpun tak ketinggalan, Brigette sekarang dipanggil Khadijah. Subhanalah! Merubah nama memang tidak wajib, tapi setidaknya membantu menjembatani gap dalam komunikasi Islami di antara muslimin dan muslimah. Mereka telah menganut Islam lebih dari 30 dan 40 tahun yang lalu dan jangan kaget karena mereka fasih berbahasa Arab.
***
Di Mörfelden, sebuah kota kecil tempat saya pernah tinggal, ada sebuah masjid Turki yang cukup megah. Masjid itu memberikan contoh bagus yang bisa ditiru oleh masjid di Indonesia yaitu tentang kemandirian untuk mendanai aktivitas dakwah. Dalam satu kompleks masjid, terdapat ”rumah dinas” untuk imam selain toko yang menjual barang kebutuhan sehari-hari dan makanan halal. Bahkan ada tempat potong rambut pria murah. Solidaritas muslim Turki juga kuat. Mereka menjadi konsumen setia dari usaha tersebut yang berarti menambah pula kas masjid. Infaq dan shodaqoh yang mereka berikan tidak tanggung-tanggung. Para pengusaha Turki yang sukses tidak segan-segan untuk memasukkan lembaran uang 50 Euro (sekitar Rp 600 ribu) ke dalam kotak shodaqoh di masjid. Tetapi yang lebih menggembirakan adalah semakin bertambahnya jumlah muslim yang melaksanakan ibadah ke masjid. Selain itu, mereka juga mengadakan pengajian untuk anak-anak dan remaja yang terutama ditujukan untuk mempelajari Al-Qur’an dan menjauhkan mereka dari pengaruh budaya Barat yang merusak.
Menarik juga cerita dari sebuah masjid Arab di Heidelberg. Imam masjid itu seorang kulit hitam bernama Yusuf dari Tunisia. Hebatnya, ia pernah kuliah Economic Management di California, Amerika, tapi begitu selesai ia meneruskan studinya dengan mengambil Ilmu Fiqh di Madinah, Saudi Arabia. Setelah lulus ia langsung ke Jerman untuk berdakwah di masjid itu. Jadinya, pengetahuannya luas; bahasa Arab, Inggris, dan Jerman sama fasihnya. Di masjid Arab itu tersedia fasilitas perpustakaan, komputer dan internetnya, dan sokongan dana yang cukup untuk mendukung aktivitas dan pemeliharaan masjid.
Namun di balik itu semua, bukan rahasia lagi umat Islam mendapat perlakuan diskriminatif di negara Barat termasuk Jerman. Mulai dari cap terorisme di mana beberapa rekan sempat diperiksa polisi di stasiun kereta gara-gara berwajah Timur Tengah, larangan karyawati kantor pemerintah Jerman termasuk para guru untuk memakai kerudung, sampai pembakaran masjid. Dari berita di TV, internet, dan koran, banyak umat muslim yang lahir atau sudah sangat lama menetap di Jerman masih dianggap sebagai tamu asing dan warga kelas dua.
Alhamdulillah, ada angin baik berhembus pada saat ini. Beberapa minggu menjelang Ramadhan tahun lalu ratusan masjid yang tersebar di berbagai kota di seluruh Jerman secara serentak menggelar acara ‘Masjid Terbuka’ (Tag der offenen Moschee). Acara besar-besaran ini telah menarik ribuan pengunjung dari dalam dan luar Jerman, baik Muslim maupun non Muslim. Acara yang digelar antara lain pameran buku-buku mengenai Islam, seminar, diskusi podium tentang masalah keislaman maupun isu-isu kontemporer menyangkut Dunia Islam. Tujuan utama acara ini, di samping untuk memperkenalkan Islam ke masyarakat luas, juga untuk meluruskan kesalahpahaman dan membangun imej yang positif seputar Islam dan umat Islam di Eropa, dan Jerman khususnya.
***
Kegiatan Ramadhan dan Idul Fitri, di samping sebagai ibadah ritual, juga dimaksudkan untuk syiar Islam. Masyarakat Jerman baik muslim maupun nonmuslim perlu diberitahu mengenai Islam yang sebenarnya, bukan seperti yang diberitakan secara keliru oleh sebagian besar media massa. Kegiatan ini merupakan penyeimbang dari dakwah lain yang dilakukan baik secara nyata maupun melalui dunia maya (internet).
Ada satu kebanggaan dalam diri umat muslim yang tinggal di Jerman dan negara-negara Barat lainnya. Mereka secara kompak berusaha untuk tidak larut dalam gelombang kehidupan masyarakat Barat yang bisa-bisa menyimpangkan aqidah mereka dari jalan yang lurus. Mereka kebanyakan menjadi golongan minoritas di lingkungan tempat tinggalnya, namun Islam telah ada selama bertahun-tahun sehingga orang-orang setempat mulai bisa menerima cara hidup yang islami ini. Yang paling penting adalah muslim di Jerman dan negara-negara Barat lainya telah menemukan kebenaran yang hakiki dari Tuhannya. Mereka dengan ikhlas menerima, mengikuti, dan melaksanakan ajaran Islam, apapun dan bagaimanapun pemikiran atau pendapat dari pemerintah dan bangsanya sendiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s