Cerpen

SWEET SEVENTEEN BUAT ANES

Cemas aku menunggu di deretan kursi koridor rumah sakit. Aku selalu memperhatikan Anes yang sedang berjuang untuk bertahan hidup di ruang UGD. Hingga akhirnya kegaduhan di dalam berakhir, dokter pun keluar dengan wajah yang sumringah dan aku bisa menangkap pesan positif darinya. Aku pun terburu-buru masuk ke kamar itu dan kulihat sosok gadis muda yang tergeletak lemah di ranjang dan wajah yang putih terlihat tampak pucat.

Seminggu setelah itu saat aku menemui dikamar inapnya aku lihat dia yang tengah berkutat dengan rumus Matematika dan Fisika kesukaannya. Sebenarnya Anes bukan anak yang bodoh, tetapi karena kelainan jantung yang sudah ia derita sejak lahir. Oleh karena itu Anes sekolah hanya sampai SMP. Untuk mengusir kebosanannya aku beri dia novel-novel dan sesekali teman –teman SMPnya datang.

Keadaan sunyi kembali terulang kulihat Anes yang sedang melihat keadaan di luar dari jendela, di luar tengah hujan lebat. Kaca yang berlapis embun dia menuliskan “SWEET SEVENTEEN“, aku pun dapat menebak bahwa seminggu lagi adalah hari ulang tahunnya yang ke-17. Aku kira dia sangat menantikan moment itu.

“Sebentar lagi aku berusia 17 tahun kak,” kata Anes. Dengan mata berbinar dan senyum yang lebar aku bisa melihat sejuta harapan dan cita-cita yang telah ia rajut sejak kecil. Namun sayangnya aku juga selalu melihat kesedihan dan kali ini lebih dari biasanya, entah kenapa dia sekarang hampir tidak pernah menceritakan masalahnya ke orang lain. Terakhir dia menunjukkan kesedihannya padaku ketika orang tuanya bercerai. Dia menangis ber jam–jam di pundakku hingga bajuku basah. Saat itulah aku melihat Anes tengah berada di titik takdir hidupnya. Aku takkan menanyakannya karena dia takkan menjawabnya. Aku hanya bisa tahu jika dia yang berinisiatif untuk mengatakan sendiri padaku.

Hujan geimis akhirnya reda, langitpun berubah cerah, mataharipun nampak dari balik awan dan cahayanya menerobos kaca dan menerpa wajah Anes. “Oh andai aku melihat pelangi di sini,” kata Anes. Dengan begitu dari nada suaranya aku mendengar keinginan yang kuat.

”Kak Randi bawa aku keluar pergi ke taman donk.” pinta Anes dengan sorot mata memohon, tapi apapun yang dia inginkan aku takan bisa menolak segala keinginannya itu. Randi pun langsung mendorong kursi roda Anes menyusuri jalan kecil di taman rumah sakit. Anes pun langsung melempar pandangan kesegala arah, ke bunga, kepohon yang tertata rapi dan kearah anak –anak yang tengah membuat dia tertawa kecil.

Keadaan hening yang dirasakan oleh Anes kembali lagi saat ia melihat kodok yang akan di makan seekor ular. Dia terus menatap kodok itu hingga pergi dari daun teratai menghampiri kodok lain yang mungkin pasangannya . “menghadapi kematian ketika kita punya keinginan untuk terus hidup itu sangat menyedihkan selalu terbayang tentang orang yang kita tinggalkan dan juga cita-cita kita yang belum terwujud.“ Kulihat matanya berkaca –kaca sesaat kemudian air matanya luruh, dia memelukku dengan erat .

“Anes ingin masih hidup kak, meski hanya sampai usia 17 tahun saja” katanya sambil menanggis .

“Apa maksud mu Anes?” tanya Randi dengan cemas.

“Kemarin aku mencuri percakapan dokter, kalau usiaku tidak sampai seminggu lagi“ Anes masih dalam tangisnya. Tuhan aku tak percaya dengan apa yang barusan kudengar ,air mataku ikut luruh, aku belum rela kehilanggan Anes yang begitu aku sayangi.

“Jangan percaya kata dokter,dia bukan Tuhan yang bisa menentukan usiamu. Aku berjanji kita akan merayakan ulang tahunmu,” aku membelai rambutnya dengan sayang, berusaha membantah pikiran itu, meski aku sadar kalau cepat atau lambat dia akan meninggalkan dunia ini.

Setelah puas melampiaskan kesedihannya akhirnya Anes tertidur, raut wajahnya yang masih menyiratkan kesedihan ulang tahun ke-17 nya mungkin akan menjadi ulang tahun yang terakhirnya. Karena itu aku bertekad untuk memberikan kado terindah, tapi apa? Aku befikir keras. Pandanganku tertuju pada foto terakhir Anes bersama papa dan mamahnya. Dia terlihat begitu bahagia, aku tak pernah melihat dia sebahagia itu setelah mamah dan papahnya bercerai saat Anes kelas 5 SD. Sejak itu mereka tidak berkumpul bersama lagi hingga kini.

Papanya sudah menikah lagi dan sekarang tinggal di London, sedangkan mamanya adalah wanita super sibuk sampai tidak punya waktu untuk putri semata wayangnya itu. Selama tiga bulan Anes di rawat di rumah sakit,belum pernah sekali pun mereka menjenguknya.

“Apakah Anes merindukan mereka”? ucapnya dalam hati. Aku pun punya rencana untuk hari ulang tahunnya yang ke-17,aku akan berusaha agar orang tuanya dapat datang tepanya di hari ulang tahunnya.Aku berusaha menghubungi kedua orang tuanya dengan susah payah.Dan akhirnya aku mendapatkan No.HP Papa Anes di London. Tetapi setiap kali aku menelepon selalu istrinya yang mengangkat, yang lebih keterlaluan istrinya tidak suka pada Anes dan aku yakin dia tak pernah menyampaikan pesanku kepada Om Budi papanya Anes Sedangkan No.HP MAMA Anes selalu mailbox .Hari ulang tahun Anes semakin dekat tapi aku belum bisa mengontak kedua orang tuanya, ini membuatku hamper putus asa.

Hari yang aku takutkan akhirnya datang juga, kondisi Anes drop,sejak kemarin dia tak sadarkan diri dengan alat bantu pernafasan ,alat pacu jantung dan bermacam-macam jarum inpus yang menempel di tubuhnya. Aku menanggis dan terus berada di dekatnya .

“Tuhan berikan Anes waktu lebih lama lagi, meski hanya sampai hari ulang tahunnya besok,”pintahku dalam hati.

“Anes bertahanlah, aku sudah berjanji akan merayakan ulang tahunmu bersama-sama. “Aku sudah siapkan kado special buat kamu,” aku berbisik di telinganya dan aku tahu dia bisa mendengarkan aku karena dia ikut menangis meski dengan mata terpejam.

Detik demi detik aku perhatikan, jam waktu pun telah menunjukan hampir tengah malam namun aku tak bisa tidur bareng sekejap pun. Memastikan bahwa nafas Anes masih ada sampai pukul 00.00, masih 15 menit lagi tapi tiba-tiba alat monitor jantung berbunyi mendadak bahwa menandakan Anes tidak beres. Aku pun panik,dengan segera dokter masuk dan sebisa mungkin menyelamatkan dia. Mengejutkan jantungnya dengan listrik agar terus berdetak. Aku merasa Anes telah mengambil sebagian nyawaku bersamanya. Tapi aku ikhlas jika hal itu bisa menolongnya Hingga akhirnya dokter mengizinkan aku masuk. Dokter pun berhasil. Dengan air mata yang masih berleleran aku meraihnya dan mencium pipinya dengan rasa syukur. Kutatap jam telah menunjukan pukul 00.05 kau berhasil Anes “Selamat ulang tahun” bisikku. Aku lega bisa menepati janjiku,tetapi aku juga kecewa karena tidak bisa menghadirkan kado yang telah aku janjikan.

Semalaman aku terus berada di sampingnya aku sudah menyiapkan kue ulang tahun dari brownis kesukaannya dangan lilin angka 17. Brrreedddddd…… pintu kamar terbuka ternyata yang aku nanti pun datang, Mama Anes….,dalam tangis tersedu-sedu dia memeluk Anes yang tergeletak lemah dan ngucapin minta maaf karena tak pernah memperdulikan. Seseorang yang juga aku harapkan datang pun muncul juga, Papa Anes…,dan yang membuat bahagia lagi Anes membuka matanya.

“Papa Mama,” kata Anes lemah, tetapi aku tahu dia begitu senang. Matanya berkaca-kaca melihat kedua orang tuanya dan dia pun langsung memegang tangan mereka dengan erat. Aku menyondorkan kue brownis dengan lilin angka 17. Dan kami pun langsung menyanyikan lagu “HAPYY BIRTHDAY” dan Anes pun meniup lilinnya. Kak Randi trima kasih ya kak buat hari ini saya benar-benar senang banget. Papa mama makasih udah mau pada datang. Hari ini Anes memang ingin sekali berkumpul dengan kalian untuk yang terakhir kalinya. Sekarang nggak ada lagi yang Anes inginkan. Anes bisa pergi dengan tenang. Jangan lupakan Anes, Anes sayang banget sama papa, mama dan kak Randi Anes menutup matanya.

8 pemikiran pada “Cerpen

  1. Apik-apik ham…
    Gabung bae nanggonku, cerpen cerpene direpost nangkana…

    • Piben carane goli repost kang….aku ramudeng jeh. Tato Priyo S. ken marahi malah ra gelem……esih bingung soale nek kaya kuweh. Aku di warahi lah……

  2. Hmm.. cerpennya renyah, enak dibaca. Sayang setiap paragraf ga dikasih jarak, jadi mengurangi keasyikan membaca.

  3. Bagus koh wa, cuma ada sedikit kekurangan ngasih tanda petik, sama konsistensi penempatan tokoh utama, kadang disebut sebagai randi, kadang sebagi aku…
    Oya bisa diedit maning koh wa, gari ming “tulisan” trus klik edit/sunting, trus edit deh segeleme. ya ngko nek q ming pwt bisa sebar masalah wordpress dweh…

  4. Joss gandosss…. maju terus pokoke…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s