Cerpen

HARAPANKU

4 tahun yang lalu ada cowok yang kusukai selama 2 tahun. Namanya Adi. Tapi cintaku bertepuk sebelah tangan. Dia tidak pernah mencintaiku, apa lagi menyukaiku. Dia hanya memandangku sebagai teman. Tapi aku tidak akan bercerita tentang dia. Aku akan bercerita tentang seseorang yang bernama Agung, yang dulu tak pernah kulihat sebagai cowok melainkan sebagai teman.

Dia teman sekelasku yang seharusnya jadi kakak kelasku. Kami hanya tiga tahun bersama, dari kelas 4 sampai kelas 6. Dulu kami sering bertemu. Bahkan saat liburan pun kami bisa bertemu. Tapi sejak lulus, kami jadi jarang bertemu, sangat-sangat jarang malah. Tadinya bagiku tak masalah. Tapi sekarang jadi masalah untukku.

Liburan lebaran belum berakhir. Hari ini hari ketiga terahir sebelum aku masuk sekolah lagi. Aku dan Emi pergi berenang. Rencananya besok kami pergi, tapi Emi maunya hari ini. Tadinya kami akan pergi bertiga dengan pacarnya Emi, tapi dia tak jadi ikut.

Setelah melewati loket, Emi melihat Agung. Tadinya aku tak percaya, tapi setelah dilihat dari dekat itu memang dia. Dia benar-benar berubah. Aku bahkan taksempat mengenalinya. Tapi mungkin itu karena aku sudah lama tak jumpa dia. Aku tidak segera menyapanya. Aku pergi melihat kolam faforitku. Karena penuh, aku dan Emi tidak jadi berenang. Kata Emi nanti saja kalau kolam sudah agak sepi.

“Jajan yuk?” ajakku ke Emi.

“Ayo,” jawab Emi.

Aku dan emi pergi beli jajan. Waktu beli jajan, dia dating. Dan seketika itu juga aku merasa dia jadi lebih tampan. Ya dia benar-benar berubah tampan. Mungkin dari dulu, tapi baru kiniku sadari. Dulu dia agak gemuk, kulitnya sawo matang dan tingginya sama denganku. Tapi sekarang, dia jadi lebih kurus, kulitnya menjadi coklat tua dan menjadi lebih tinggi dariku. Dan ada juga yang tidak berubah. Rambutnya tidak berubah, tetapi jabrik.

Aku dan Emi pamit duluan, kami dudk di salah satu tempat yang kosong. Sambil makan permen karet, kami ngobrol. Kemudian dia dating, sama mas Aji dan entah siapa.

“Hai boleh minta permennya?” Tanya si asing.

“Boleh, nih.” Kusodorkan permen karet padanya.

“Makasih,” kata si asing.

Aku dan Agung ngobrol. Emi juga ikut, bahkan si asing juga. Hanya mas Aji yang tidak.

“Siapa namamu?” Tanya si asing.

“Siapa ya?” jawabku.

“Pelit banget sih. Cumin tanya nama aja kayak tanya apa. Siapa namamu?” paksa si asing.

“Ya siapa?” jawabku

“Riz siapa namanya?” Tanya si asing ke Agung.

“Nisa.” Jawabnya.

“Riz? Jadi sekarang kau dipanggil Rizki?” tanyaku.

“Ya begitulah. Tapi kalau di rumah tetap di panggil Agung,” jelasnya.

“Sama denganku. Di sekolah aku dipanggil Innun, dirumah NIsa.”

“Dan kau, siapa namamu?” tanya si asing ke Emi.

“Emi.” Jawab Emi.

“Sekarang siapa namamu?” tanyaku ke si asing.

“Robbi,” jawabnya.

Kami terjebak dalam obrolan masa lalu. Agung banyak cerita tentang aku waktu SD. Tapi tak ada yang kuingat sama sekali. Sejenak tadi mas Robbi pergi. Dan begitu kembali, dia merokok.

“Mas matiin rokoknya dong,” kataku.

“Memangnya kenapa? Inikan tidak membayakan orang lain dan diri sendiri,” jawabnya.

“Iya sih, tapi aku tidak suka cowok perokok. Dan rokok bisa menyebabkan penyakit pernafasan,” kataku.

“Hadist mengatakan bla, bla, bla, bla, bala,” tak ada yang kumengerti sama sekali.

Aku kagum padanya. Selama ini baru dia yang kularang merokok, tapi malah baliki menasehati. Lama-lama temannya yang lain dating. Ada mas Ulil dan mas Aan. Aku dan Agung ngobrol akrab. Sedangkan Emi sibuk menghindar dari mas Ulil. Mas Aan sama dengan mas Aji diam. Tapi tidak sangat-sangat diam, hanya jarang bicara.

Ada lagi yang membuatku kagum pada mas Robbi. Dia bisa menebak karakter cowo idamanku. Kau tahu apa katanya? Katanya aku suka cowo yang tidak agreif, patuh pada orang tua, tidak merokok dan playboy. Dan tebakannya hamper mirip dengan karakter cowok idamanku. Ganteng, mapan, islam, tidak merokok dan yang pasti jujur. Mungkin kebanyakan cowok ganteng adalah playboy. Dan kata mas Robbi, cowok yang jadi pacarku akan beruntung. Karena menurutnya aku cewek yang setia. Dan kurasa itu benar. Karena jika aku sedang menyukai cowok, aku hanya focus pada satu cowok. Yoa walaupun yang lain juga kulirik, tapi pikiran dan hatiku hanya berfokus pada cowok itu.

Setelah cukup lama aku dan Emi pulang. Kami tidak jadi berenang. Karena begitu Agung dan kawan-kawan pamit pulang, kami juga ikut pulang. Setelah keluar kami tidak langsung pulang. Kami duduk-duduk dulu di rumah pertemuan depan kolam. Kami ngobrol lagi. Waktu lagi ngobrol, mas Robbi lihat dan dating bergabung disusul Agung mas Aji dan mas Ulil. Tapi mas Aji dan mas Ulil tidak ikut ngorol, soalnya mereka pergi. Kata mas Aji mau sasak rambut.

Kami berempat ngorol lagi. Lagi-lagi mas Robbi main prediksi. Katanya aku cocok dengan Mr M. Kalo dengan Agung cocok, tapi lebih cocok dengan Mr M. Kami jadi seperti sedang kencan ganda. Aku dengan mas Robbi dan Emi dengan Agung. Karena hari ini adalah Jum’at, banyak yang pergi mau sholat Jum’at melewati tempat kami, karena kebetulan masjidnya berada (dari Ajibarang) adalah setelah tempat kami ngorol. Tapi mas Robbi dan Agung nggak sholat Jum’at. Menurut mas Robbi mereka sudah termasuk musafir.

Mas Arif, mas Hendra, mas Aan dan mas Piyo mulai berdatangan. Disusul mas Aji dan mas Ulil. Aku sengaja meninggalkan Emi ngobrol dengan mas Robbi dan pelarianku adalah ngobrol dengan Agung.

“Nisa,” katanya.

“Ya, ada apa?” kataku.

“Apakah diantar semua cowok yang ada di sini, ada yang kamu sukai?” tanyanya.

“Ada,” jawabku.

“Mas Robbi? (aku menggeleng). Mas Arif? (aku menggeleng). Hendra? (aku menggeleng). Terus siap.”

“Ya ada deh. Rahasia.”

Sebenarnya ingin sekali kujawab mas Arif dan kamu. Tapi tak bisa. Lama kami mengobrol. Aku dan Emi pulang. Kami pulang diantar Agung dan mas Aji pakai motor. Aku bonceng Agung dan Emi bonceng mas Aji. Sayangnya aku tidak diantar sampai rumah. Karena bensin limit. Tapi selama itu aku ngorol cukup banyak dengannya. Tapi tidak terlalu banyak. Karena kalo sedang naik motor dengan kecepatan yang lumayan cepat sekalipun aku tidak bisa mendengar obrolan dengan jelas. Dan yang membuatku senang,…………….

“Nis, ini bisa untuk kenang-kenangan dariku untukmu,” katanya.

“Ya, ini benar-benar kenangan-kenangan darimu untukku. Karena belum tentu hal seperti ini terjadi lagi kelak,” sambungku.

Malamnya emi main ke rumahku. Dan dia mengatakan hal yang melengkapi kebahagiaanku.

“Nun! Kata Agung dulu dia suka sama kamu. Tapi sekarang nggak,” katanya.

“Benarkah? Pasti bohong,” kataku.

Dan malam ini adalh saat terakhir aku bertemu dengannya.

Sudah dua hari aku masuk sekolah. Dan hari ini ada hal yang membuatku tidak rela berangkat sekolah. Aku melihat dia sedang duduk dengan entah siapa di depan rumahnya. Aku kaget tapi senang. Katanya dia harus kembali ke sekolah. Dan libur telah habis, tapi mengapa dia masih di rumah?

Sejak saat itu setiap berangkat sekolah aku selalu melihat rumahnya. Sebenarnya diriku ini sudah beruntung bis melihat rumahnya. Coba kalau rumahnya jauh dari jalan raya, pasti waktu itu aku tidak mungkin melihatnya. Hari minggu (dua minggu berikutnya) aku melihat dia lagi. Dan itu benar-benar saat terahir melihatnya.

Aku memang sedikit sedih. Karena disaat aku ingin melihatnya sebagai cowok, dia malah sudah tidak melihatku lagi sebagai cewek. Tetapi dari obrolan kami yang terakhir, aku yakin dia masih sedikit melihatku sebagai cewek. Buktinya dia nawarin aku yang bonceng dia waktu nganterin pulang dulu, bukan Emi. Dan ada satu hal lagi yang bisa menjadi bukti, yaitu kejadian diantara aku, dia dan tuhan. Dan kejadiannya positif pastinya.

Sekarang aku sangat berharap bisa bertemu dan ngobrol dengannya, barang sebentar saja. Agar aku yakin bahwa perasaan yang tiba-tiba timbul terhadapnya adalah suka bukan hanya kagum. Dan ada yang ingi kutanyakan padanya.

Agung aku ingin ketemu kamu, ngobrol denganmu dan bertanya padamu. Dan semoga itu segera terjadi.

Karya :

AINUN NISA ARLIANI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s