ARTI BERJUANG PADA WANITA 3 DUNIA

AISIAH BINTI MUZAHIM

Dalam lekung cahaya bulan. Dia meringkuk pelan, pada ujung kaku lidahnya, pada rasa sial dihatinya. Berselimut luka, pada tubuh penuh bilur-bilur siksa, hari ini, dalam pelayanan wajib ada wajah Dewa kekasih hatinya, yang kini menyiksa dunianya. Meringkuk dia di ujung lara. Cantik tapi tersia-sia. Dalam gaun sutra tipis, safir indah di tangan, taburan mahkota bertahta berlian, tubuh berbalut emas, terlihat pualam didalamnya, dia terus meratap rindu akan kata cinta Illahi semata. Mengambil seruling cinta, meniupnya lirih. Suaranya meliuk-liuk menaklukan sunyi malam, menusuk jantung, terhembus angin. Menggambarkan pergulataannya, pada hati wanita tanpa daya. Lemah dalam pengobaran cinta. Pada mihrab abadinya. Tangan terkekang, kaki terbelenggu, tubuh terkukung sangkar. Membias lara rindunya dalam rapalan dzikir, dia Aisiah binti muzahim Istri Fir’aun, yang lalim. Keangkuhan demi keangkuhan melahirkan penderitaan tanpa batas dan tepian. Hingga dada tertindih batu mendidih diakhir dunianya. Tapi dia rela tersiksa, demi meraih surgaNya.

RABI’AH AL-ADAWIYAH

Melangkah pelan dalam gaun panjang hitam, tertutup cadar Iman. Berseloroh pelan, tak bersuara gaduh. Patuh. Diam. Hijab terjaga. Tak mau menoleh melihat pandangan. Berjuang atas birahinya, tidak tercabut akar akhlak, iman, dan takwa kepadaNya. Hanya ada jawaban salam santun. Hanya ada rapalan doa runtun. Dari semua doa yang terdengar satu terdengar lirih beriring suara angin yang merindu. Tentang Allah…Allah dan Allah. Berharap pada kasih sayang Allah. Mengharap selalu dekat dengaNya. Menjadi kekasih AbadiNya. Mencintai sudah dia. Bersatu sudah mereka. Tenggelam dalam cumbu dan gelak nurani hamba pada TuanNya. Mengabdi dia hanya kepadaNya. Mengingat akan Rabi’ah al-Adawiyah. Tak mau berharap dan terlibat cinta dunia, menatap pada satu pintu kiblat. Allah Azza wa Jalla semata.

NASIBAH BINTI KAAB

“Tak mau tinggal diam aku Pada harem yang menyesatkanku dan membuaikan duniaku Ikut aku menangkap peluang, berjuang berjihad fi sabilillah Mendampingi kekasih Allah” Jangan terluka, jangan terkena lara, jadi pedang ditangan kirinya Menantang musuh di garis depan bahu-membahu melindungi kekasihNYa Tak takut tertusuk pedang, tak gentar ditatap lawan Maju terus Nabisab binti Kaab dengan bahu berdarah-darah Pada dahi yang tergores Tak peduli pada kecantikan panggilan “ Ummu Imarah” Tanpa air mata , tanpa keluhan atas luka, dan hanya ada teriakan-teriakannya : “Allahu Akbar ! “ “Allahu Akbar !” “Allahu Akbar !” Hingga desir tetes terakhir, mendekap kaki Rasulullah SAW Membentengi membabi buta “Betapa hebat Ummu Imarah”, kata Rasulullah SAW

Ketiganya bukti dan simbol Wanita tiga dunia dalam kekuatan berbeda Tak ada beda dengan laki-laki selain hanya Iman dan Takwa kepadaNya

byIweddudul, 23 Oktober 2009

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s